Pemerintah Suriah di bawah kepemimpinan Presiden Ahmed al-Sharaa terus berupaya keras untuk menjaga jarak dari pusaran konflik besar yang sedang melanda Timur Tengah. Namun, meski Damaskus telah menyatakan sikap untuk tidak terlibat dalam perang regional, wilayah kedaulatannya tetap menjadi sasaran operasi militer Israel.
Penegasan mengenai posisi netral Suriah disampaikan langsung oleh Presiden Ahmed al-Sharaa dalam pidato kenegaraan usai melaksanakan shalat Idulfitri 1447 H di Istana Kepresidenan Damaskus, Jumat, 20 Maret 2026. Sharaa menekankan bahwa prioritas utama pemerintah saat ini adalah menjaga stabilitas nasional yang baru saja mulai pulih.
Diplomasi Kehati-hatian Ahmed al-Sharaa
Dalam pidatonya, Presiden Sharaa mengungkapkan bahwa setiap kebijakan luar negeri Suriah saat ini diambil dengan perhitungan yang sangat cermat guna menghindari eskalasi. Ia menekankan transformasi posisi diplomatik Suriah yang kini diklaim lebih harmonis dibandingkan dekade sebelumnya.
“Kami menghitung langkah-langkah kami dengan sangat teliti dan berupaya menjauhkan Suriah dari konflik apa pun. Penting untuk diingat bahwa meski Suriah menjadi arena konflik selama 15 tahun terakhir, hari ini kami berada dalam harmoni dengan semua negara tetangga di kawasan maupun komunitas internasional,” ujar Sharaa sebagaimana dikutip dari AFP.
Meskipun menyatakan solidaritas terhadap negara-negara Arab, Suriah memilih untuk tidak memberikan dukungan militer aktif dalam konfrontasi yang melibatkan Iran, Hizbullah, dan koalisi Amerika Serikat-Israel.
Eskalasi Regional dan Dampaknya terhadap Suriah
Konflik yang dipicu oleh serangan masif AS-Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 telah meluas hingga ke Lebanon dan Irak. Sebagai respons, Iran melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta menargetkan aset-aset strategis Amerika di negara-negara Teluk.
Dalam dinamika ini, wilayah udara Suriah sering kali menjadi jalur lintasan rudal-rudal balistik Iran yang menuju Israel. Meski militer Israel (IDF) kerap melakukan pencegatan udara di atas langit Suriah, Damaskus secara konsisten memilih untuk tidak melakukan intervensi atau terlibat langsung dalam baku tembak tersebut. Warga sipil di Damaskus dilaporkan hanya menyaksikan perkembangan perang dari kejauhan tanpa adanya mobilisasi militer nasional.
Serangan Israel ke Wilayah Selatan
Upaya keras Suriah untuk menjaga jarak ternyata tidak sepenuhnya menjamin keamanan teritorialnya. Pada Jumat, 20 Maret 2026, militer Israel (IDF) secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah melancarkan serangan udara terhadap sejumlah kamp tentara Suriah di wilayah selatan.
Serangan ini menunjukkan bahwa Israel tetap memandang infrastruktur militer di Suriah sebagai ancaman potensial atau titik transit bagi proksi-proksi Iran, terlepas dari klaim netralitas yang disuarakan oleh Presiden Sharaa. Tindakan IDF ini memperumit posisi Suriah yang sedang berupaya membangun kembali citra diplomatiknya di panggung internasional.
Tantangan Stabilitas Jangka Panjang
Bagi pemerintahan Ahmed al-Sharaa, serangan Israel ini menjadi ujian berat bagi kebijakan “menjauh dari konflik”. Di satu sisi, Suriah harus mempertahankan kedaulatannya, namun di sisi lain, merespons secara militer akan menarik negara tersebut kembali ke dalam kehancuran perang yang baru saja mereka tinggalkan.
Kini, perhatian internasional tertuju pada sejauh mana Damaskus mampu mempertahankan pengendalian diri di tengah tekanan militer dari Israel dan tuntutan solidaritas dari blok sekutu lamanya di kawasan.
