Pemerintah Republik Islam Iran mulai mengisyaratkan kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur nadi energi global yang telah mengalami disrupsi signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Namun, langkah diplomatis ini tidak datang tanpa syarat. Teheran menegaskan bahwa operasional penuh jalur pelayaran tersebut hanya akan dipulihkan apabila terdapat mekanisme kompensasi finansial atas kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi yang diderita akibat perang.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Seyyed Mehdi Tabatabaei, pejabat komunikasi di kantor Presiden Iran, sebagaimana dilansir oleh The Guardian pada Minggu, 5 April 2026. Sejak eskalasi militer yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan aliansinya pada 28 Februari 2026, stabilitas Selat Hormuz terus terganggu, memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional.
BACA JUGA : [POPULER GLOBAL] Analisis Ketahanan APBN Terhadap Gejolak BBM hingga Penangkapan Bos Mafia Italia
Formulasi ‘Rezim Hukum Baru’ dan Biaya Transit
Tabatabaei menjelaskan bahwa Teheran tengah merancang apa yang mereka sebut sebagai “rezim hukum baru” untuk mengatur lalu lintas maritim di wilayah kedaulatan mereka. Konsep ini secara mendasar akan mengubah status Selat Hormuz dari jalur pelayaran bebas menjadi jalur berbayar bagi kapal-kapal komersial internasional.
“Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali secara normal jika seluruh kerugian akibat perang yang dipaksakan telah dikompensasi melalui rezim hukum baru, yakni dengan mengalokasikan sebagian dari pendapatan biaya transit kapal,” tegas Tabatabaei. Strategi ini menunjukkan upaya Iran untuk membebankan biaya pemulihan pascaperang langsung kepada pengguna jalur logistik global.
Implementasi Lapangan: Skema ‘Gerbang Tol’ oleh IRGC
Laporan dari AP News dan Lloyd’s List Intelligence mengindikasikan bahwa prasyarat tersebut bukan sekadar wacana diplomatik, melainkan sudah mulai diterapkan di lapangan. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dilaporkan telah menjalankan mekanisme yang menyerupai “gerbang tol” bagi kapal-kapal tanker yang melintas di titik-titik krusial selat tersebut.
Beberapa poin penting dalam implementasi skema ini meliputi:
- Penggunaan Mata Uang Non-Barat: Sejumlah kapal dilaporkan telah melakukan pembayaran biaya transit menggunakan mata uang Yuan (RMB) sebagai upaya Iran menghindari sistem keuangan berbasis Dolar AS.
- Selektivitas Transit: Tidak semua kapal diperlakukan sama. Laporan menyebutkan adanya diskriminasi positif bagi negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik baik dengan Teheran. Sebagai contoh, kapal pengangkut gas dari India dilaporkan mendapatkan izin melintas melalui jalur negosiasi bilateral tanpa hambatan berarti.
- Preseden Hukum Maritim: Langkah Iran ini memicu perdebatan hukum internasional mengenai hak lintas damai (innocent passage) dalam Konvensi Hukum Laut PBB (UNCLOS), di mana Iran mengklaim hak kedaulatan penuh atas wilayah perairannya sebagai respons atas tindakan agresi eksternal.
Dampak terhadap Stabilitas Energi Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi faktor risiko utama bagi pemulihan ekonomi global di tahun 2026. Dengan posisi Iran yang semakin tegas mengaitkan pemulihan ekonomi domestik mereka dengan retribusi pelayaran, komunitas internasional dihadapkan pada pilihan sulit: menerima biaya tambahan dalam rantai pasok energi atau terus menghadapi ketidakpastian suplai.
Para analis menilai bahwa langkah Iran menerapkan biaya transit ini adalah strategi untuk meningkatkan posisi tawar dalam negosiasi gencatan senjata yang lebih luas dengan pemerintahan Donald Trump. Selama mekanisme kompensasi ini belum disepakati oleh kekuatan besar dunia, Selat Hormuz diprediksi akan tetap menjadi instrumen politik paling efektif bagi Teheran dalam menekan balik sanksi dan serangan militer yang mereka hadapi.
