Ketegangan di Selat Hormuz memasuki babak baru yang melibatkan kendala teknis dan risiko keamanan maritim. Amerika Serikat menuding Iran tidak memiliki kemampuan untuk menemukan kembali maupun menyingkirkan ranjau laut yang telah mereka tanam sendiri di jalur perairan strategis tersebut. Situasi ini dinilai menjadi penghambat utama dalam realisasi gencatan senjata dan pembukaan kembali jalur perdagangan energi dunia.
BACA JUGA : Kebuntuan Diplomasi: Israel Tolak Gencatan Senjata dengan Hizbullah Meski Korban Jiwa Terus Berjatuhan
Lokasi Ranjau yang Tidak Terdeteksi
Menurut laporan New York Times yang mengutip keterangan pejabat Amerika Serikat, Iran diduga melakukan penanaman ranjau secara sembarangan selama periode konflik enam minggu terakhir. Terdapat keraguan besar apakah militer Iran mencatat koordinat pasti dari setiap ranjau yang mereka sebar.
Beberapa faktor yang memperumit situasi di lapangan antara lain:
- Pergeseran Arus: Pejabat AS menilai sejumlah ranjau kemungkinan besar telah hanyut atau berpindah tempat dari posisi semula akibat arus laut, sehingga lokasinya kini tidak diketahui pasti oleh Iran sendiri.
- Keterbatasan Pencatatan: Ada indikasi bahwa pemasangan dilakukan secara terburu-buru tanpa protokol pemetaan yang memadai.
- Ancaman Lintas Jalur: Hal ini menyebabkan jalur navigasi yang aman menjadi sangat terbatas, sehingga lalu lintas kapal tanker belum bisa kembali normal meski secara politik sudah ada lampu hijau.
Tantangan Pembersihan: Kompleksitas Operasi Penyapuan
Menyingkirkan ranjau laut memiliki tingkat kesulitan yang jauh lebih tinggi dibandingkan proses pemasangannya. Pejabat militer menekankan bahwa baik AS maupun Iran memiliki keterbatasan dalam kemampuan penyapuan ranjau yang cepat dan andal.
- Kapasitas Iran: Meskipun Iran memiliki arsenal ranjau yang besar, mereka dilaporkan tidak memiliki teknologi yang cukup canggih untuk melakukan penetralan ranjau secara masif dalam waktu singkat.
- Kapasitas AS: Militer AS saat ini sangat mengandalkan Kapal Tempur Pesisir (Littoral Combat Ships) yang dilengkapi modul misi penyapu ranjau, namun jumlahnya terbatas untuk cakupan Selat Hormuz yang luas.
Diplomasi “Keterbatasan Teknis” dan Posisi Donald Trump
Presiden Donald Trump telah menegaskan melalui media sosial bahwa kelanjutan gencatan senjata selama dua minggu ini sangat bergantung pada pembukaan total Selat Hormuz. Merespons tuntutan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Rabu (8/4/2026) menyatakan bahwa pihaknya akan membuka selat tersebut, namun dengan catatan adanya “keterbatasan teknis”.
Pejabat Washington menginterpretasikan frasa “keterbatasan teknis” tersebut sebagai pengakuan tersirat bahwa Teheran sedang kesulitan membersihkan ranjau yang mereka pasang sendiri.
Pengiriman Kapal Penyapu Ranjau AS
Dalam perkembangan terbaru yang dilaporkan oleh AFP pada Minggu (12/4/2026), Presiden Trump mengonfirmasi bahwa AS telah mengerahkan armada penyapu ranjau secara mandiri ke lokasi.
“Kita punya kapal penyapu ranjau di sana. Kita sedang menyisir selat itu,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa pembukaan selat ini merupakan prioritas global karena banyak negara bergantung pada jalur tersebut, meskipun ia juga memberikan kritik tajam kepada negara-negara lain yang dianggapnya tidak berani mengambil inisiatif dalam mengamankan jalur navigasi internasional.
Kebuntuan teknis ini kini menjadi variabel krusial dalam negosiasi damai yang sedang berlangsung di Islamabad, Pakistan. Selama ranjau-ranjau tersebut belum dapat dipastikan bersih, risiko eskalasi militer akibat insiden kapal tenggelam tetap menghantui stabilitas kawasan.

