Pakistan mendapatkan apresiasi luas dari komunitas internasional setelah berhasil memediasi kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran. Keberhasilan ini meredam kekhawatiran global akan eskalasi perang terbuka yang lebih luas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi mengumumkan pada Selasa (9/4/2026) bahwa ia menerima proposal gencatan senjata yang diajukan oleh Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Keputusan Washington untuk menangguhkan serangan militer terhadap Iran diambil dengan syarat utama: Teheran harus membuka kembali Selat Hormuz secara lengkap, aman, dan segera. Langkah diplomatis ini dianggap sebagai titik balik krusial, mengingat beberapa jam sebelumnya, Trump sempat mengeluarkan retorika keras yang mengancam kehancuran peradaban Iran melalui platform media sosial miliknya.
BACA JUGA : Eskalasi di Selat Hormuz: Ancaman Terhadap Gencatan Senjata AS-Iran dan Ketegangan Regional
Pakistan sebagai Perantara yang Kredibel
Keberhasilan Islamabad dalam menjembatani kebuntuan komunikasi antara Washington dan Teheran tidak lepas dari posisinya sebagai mediator yang tepercaya. Menurut Raja Qaiser Ahmed, ahli hubungan internasional dari Universitas Quaid-e-Azam, Pakistan mampu memposisikan diri di tengah eskalasi yang sangat akut. Kepemimpinan Shehbaz Sharif dan Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dinilai berhasil menyelaraskan kepentingan mendesak dari kedua belah pihak untuk melakukan de-eskalasi.
Faktor-faktor utama yang membuat Pakistan dipercaya dalam proses ini meliputi:
- Kedekatan Personal dengan Trump: Hubungan baik antara pimpinan Pakistan dan Donald Trump telah terjalin kuat sejak Mei tahun lalu, khususnya setelah keterlibatan Trump dalam meredam eskalasi militer antara Pakistan dan India.
- Hubungan Historis dengan Iran: Meskipun memiliki dinamika yang kompleks, Pakistan tetap menjaga hubungan persahabatan yang stabil dengan rezim Iran sebagai sesama negara tetangga.
- Pemanfaatan Jalur Keamanan dan Diplomasi: Pakistan menggunakan akses keamanan dengan Amerika Serikat tanpa harus memutus komunikasi dengan Iran, sehingga mampu merumuskan langkah awal yang dapat diterima secara kolektif oleh kedua pihak.
Fokus pada Koordinasi dan Dialog
Kontribusi kunci Pakistan dalam krisis ini bukanlah melalui paksaan, melainkan melalui koordinasi strategis. Islamabad berperan dalam menyusun kerangka kerja awal yang bertujuan mengurangi risiko benturan fisik serta menciptakan ruang dialog yang sebelumnya hampir tertutup rapat oleh ancaman militer.
Elizabeth Threlkeld, Direktur Asia Selatan di Stimson Center Washington, menilai bahwa pencapaian ini merupakan langkah luar biasa bagi diplomasi luar negeri Pakistan. Tantangan berikutnya bagi Islamabad adalah menjaga momentum negosiasi agar kesepakatan sementara ini bisa berkembang menjadi perdamaian yang lebih permanen sebelum masa berlaku dua pekan tersebut berakhir.
Para pemimpin Pakistan diprediksi akan terus mengintensifkan keterlibatan mereka dengan mitra-mitra kunci internasional untuk memastikan pembicaraan tetap berjalan dan meminimalkan segala bentuk tindakan provokatif yang dapat merusak kepercayaan yang baru saja terbangun. Keberhasilan ini menempatkan Pakistan sebagai aktor diplomatik penting yang mampu menavigasi konflik besar di kawasan Timur Tengah.
